sejarah adi sumarmo, biografi adi sumarmo, adi soemarmo,Adi  Soemarmo,Peran adi sumarmo,pendidikan adi sumarmo, Bandara adi sumarmo,kiprah adi sumarmo

Latar Belakang Adi Sumarmo

Adi Sumarmo Wiryokusumo atau Adi Soemarmo Wirjokoesoemo (ejaan lama) adalah salah satu pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi nama bandara, yaitu Bandara Internasional Adi Soemarmo, Jawa Tengah. Adi Sumarmo lahir pada tanggal 31 Maret 1921 di Blora, Jawa Tengah. Bersama dengan Adisoetjipto, Abdoelrahman Saleh, Husein Sastranegara, dan Iswahjoedi, beliau adalah para pahlawan yang menjadi perintis TNI AU. 

Adisumarmo juga dikenal sebagai perintis sekolah Radio Telegrafis Udara yang pertama kali di lingkungan Angkatan Udara dan merupakan cikal bakal Sekolah Radio Udara di kemudian hari. Peran radio AURI sangat besar karena mampu memberitakan kepada dunia tentang perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan.

Sebelum bergabung dengan Angkatan Udara, Adisoemarmo tengah bekerja di Australia sebagai flight radio operator dari Netherland Eart Ladius Air Force (NELAP). Namun ia kemudian memutuskan kembali ke Indonesia yang pada waktu itu dalam kondisi perang. Sesuai dengan keahlian yang dimiliki, Adi Sumarmo masuk ke dalam Angkatan Udara dengan pangkat Opsir Muda Udara I.

Opsir Muda Udara I Adi Sumarmo Wiryokusumo adalah salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Bersama Adisoetjipto, Abdoelrahman Saleh, Husein Sastranegara dan Iswahjoedi, Adi Sumarmo dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia.


Adi Sumarmo Dalam Misi Kemanusian

Pada tahun 1947, Adisoemarmo bersama dengan Adisutjipto, Abdoelrahman Saleh, dan Abdul Gani Handonocokro, mendapatkan tugas menerbangkan pesawat Dakota VT-CLA dalam misi terbang ke India dalam upaya mengambil bantuan obat-obatan yang diberikan oleh Palang Merah Malaya dan India untuk Palang Merah Indonesia. Adisoemarmo mendapat tugas sebagai radio operator pesawat Dakota VT-CLA. 

Tragedi Jatuhnya Pesawat Adi Sumarmo dan kawan-kawan.

Pada tanggal 29 Juli 1947, pesawat pulang ke Indonesia menuju Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta. Sebelum mendarat, pesawat VT-CLA mengalami kecelakaan akibat peluru yang ditembakkan dua pesawat P-40 Kittyhawk milik Belanda.

Dua pesawat Kitty Hawk milik Angkatan Perang Belanda itu memberondong pesawat yang dinaiki Adi Sumarmo dan 8 orang lainnya dengan beberapa kali tembakan. Pilot sebenarnya sudah berusaha mengarahkan pesawat ke landasan Lapangan Udara Maguwo, tapi gagal. 

“Pesawat itu kemudian meledak dan patah menjadi dua. Semua penumpang tewas termasuk Pak Karbol, Pak Abdulrahman Saleh, wing commander dari India dan Australia. Satu-satunya yang selamat adalah Pak Gani,” kenang salah seorang saksi mata (Kompas, 19 Agustus 1979).

Pesawat VT-CLA total mengangkut 9 orang, yaitu:

  1. Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto
  2. Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh
  3. Juru Radio, Opsir Udara Adisumarmo Wiryokusumo
  4. Abdul Gani Handonocokro
  5. Pilot, A.N Constantine , berkebangsaan Australia
  6. Co-pilot,R.L. Hazelhurst, berkebangsaan Inggris
  7. Juru Teknik, Bhida RAM , berkebangsaan India
  8. Ny. A.N. Constantine
  9. Zainal Arifin , Atase Perdagangan RI di Singapura

Pesawat jatuh di Dusun Ngoto, Desa Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Awak pesawat dan hampir semua penumpang gugur dalam peristiwa tersebut. Satu-satunya penumpang yang selamat adalah Abdul Gani Handonotjokro. Disebutkan dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia (Perjuangan AURI 1945-1950) Adi Sumarmo diketahui sudah meninggal sebelum pesawat menghantam tanah. Dari hasil pemeriksaan jenazahnya mendapati sejumlah lubang bekas peluru senapan mesin di punggung dan perut.

Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka setiap tanggal 29 Juli diperingati sebagai Hari Bhakti Angkatan Udara. Opsir Muda Udara I Adi Soemarmo dimakamkan di Pemakaman Semaki, yang kemudian berubah menjadi Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusuma Negara, Yogyakarta. Pada 9 November 1974.

Penghargaan 

Pemerintah Indonesia menetapkan Adi Soemarmo sebagai Pahlawan Nasional berdasar Keputusan Presiden No. 071/TK/1074. Namanya kemudian diabadikan untuk menggantikan nama Lapangan Terbang Panasan, Surakarta, menjadi Bandara Internasional Adi Soemarmo.

 
Ada perbedaan sumber mengenai penulisan nama tokoh. Ada yang menulis Adisumarmo (tanpa spasi), namun ada juga yang menulis secara terpisah Adi Sumarmo. Disini kami menulis dengan ejaan secara terpisah yaitu Adi Sumarmo. Pemilihan ini kami dasarkan sebagaimana sama dengan nama Bandara Adi Soemarmo saat ini.


Sumber :

  • Irna Hanny Nastoeti Hadi Soewito, dkk.(2008). Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950
  • historia.id, tirto.id, padamu.net, id.wikipedia.org